Situs Tips Kesehatan dan Kecantikan Alami

5 Zat Aditif Jenis Makanan Yang Perlu Anda Tahu

zat aditif pada makanan

Fosfat terbentuk secara alami dalam bentuk ester organik pada berbagai macam makanan termasuk daging, kentang, roti dan makanan dari tepung lainya. Konsumsi makanan tersebut tidak dapat dibatasi tanpa menimbulkan risiko penurunan asupan protein. Ikatan fosfat dengan makanan organik terjadi secara alami dan hanya 40-60 % yang dibuang dari saluran pencernaan. Fosfat sangat lambat dipecah dalam saluran pencernaan dan karena itu akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk dibuang dari tubuh.

Baca Juga: Makanan Untuk Menambah Berat Badan Yang Direkomendasikan

Zat Aditif Fosfat Pada Makanan

Fosfat bebas yang tidak terikat secara organik dapat secara efektif diserap dalam saluran pencernaan. Makanan-makanan tertentu yang ditambahkan dengan fosfat sebagai pengawet dan zat aditif adalah daging olahan, ham, sosis, ikan kalengan, makanan panggang, minuman kola dan minuman ringan lainya. Fosfat ditambahkan sebagai agen pengemulsi, buffer asam dan agen pengasam. Garam fosfat ditambahkan ke banyak makanan sebagai penstabil dan penguat rasa.

1. Makanan cepat saji

Makanan cepat saji dan makanan siap santap adalah kontributor utama terhadap konsumsi tinggi fosfat dalam makanan. Penggunaan zat aditif untuk makanan meningkat. Estimasi konsumsi fosfat sehari-hari bertambah dua kali lipat sejak tahun 1990 an, dari di bawah 500 mg per hari menjadi 1000 mg per hari.

2. Fosfat pada daging olahan

Fosfat merupakan aditif makanan yang berperan penting dalam dunia industri daging, karena kegunaanya sebagai pengawet makanan. Kandungan fosfat pada daging olahan meningkat dua kali lipat dari yang seharusnya.

3. Fosfat pada produksi keju

zat aditif pada makanan produksi keju

Fosfat juga digunakan sebagai garam untuk melelehkan dalam produksi keju. Cara kerja fosfat dalam industri ini adalah dengan merenggangkan struktur protein sehingga dapat mengikat air lebih banyak.

4. Fosfat dalam minuman ringan

Selain itu, zat aditif fosfat dalam jumlah besar juga ditemukan dalam minuman ringan untuk sterilisasi, ultraheated. Tanpa menambahkan fosfat, minuman kola tidak akan berwarna hitam. Fosfat yang ditambahkan ke dalam minuman kola akan mengganggu reaksi glikasi, di mana dari reaksi ini akan menproduksi zat yang disebut AGE (Advanced Glycation End Products) dan karenanya minuman tersebut berwarna hitam. Minuman kola dan minuman ringan berperisa sering mengandung fosfat dalam kadar yang cukup besar sebagai asam fosfor (E 338) sebagai agen pengasam. Agen ini memberikan pH yang lebih asam pada makanan sehingga menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri dalam makanan.

Baca Juga: Manfaat Kuning Telur Untuk Kesehatan Dan Pencegahan Penyakit

Di Eropa, regulasi penambahan fosfat dalam minuman kola memperbolehkan penggunaan fosfat lebih dari 700 mg/L dalam minuman kola. Jika fosfat sebanyak ini yang dikonsumsi maka konsumsi satu liter kola akan menyebabkan Anda mengonsumsi fosfat sekitar 50% hingga 70% dari jumlah fosfat yang boleh dikonsusmsi per harinya.

5. Fosfat pada makanan bubuk

zat aditif pada makanan bubuk kopi

Fosfat juga dipakai untuk menebalkan dalam pembuatan susu bubuk. Penggunaan fosfat lain adalah untuk pencegahan aglomerasi makanan bubuk seperti kopi bubuk dan puding.

Di sisi lain, risiko kesehatan konsumsi fosfat berlebih belum cukup menarik perhatian sehingga banyak digunakan sebagai zat aditif dan pengawet dalam makanan.  Konseling terhadap makanan akan lebih sulit karena kandungan fosfat dalam makanan hanya diketahui memiliki satu-satunya risiko kesehatan berupa kalsifikasi pembuluh darah dan organ tubuh.

Fosfat yang berada dalam tubuh dalam waktu lama dapat merusak sistem jantung dan pembuluh darah. Selain itu, fosfat meningkatkan proses penuaan pada penelitian dengan hewan coba. Pada penelitian ini ditemukan bahwa fosfat yang ditambahkan dalam makanan hewan coba memunculkan efek buruk terhadapnya, yaitu atrofi (pengecilan) kulit dan otot, gagal ginjal kronik serta kalsifikasi jantung dan pembuluh darah.

Mengingat hubungan antara fosfat dan kalsifikasi organ pada pasien dengan gagal ginjal menumbuhkan kesadaran terhadap fosfat. Fosfat dapat merusak ginjal bahkan pada orang yang memiliki ginjal yang sehat. Intervensi konkret perlu dilakukan dalam membuat kebijakan kesehatan. Satu langkah penting sebagai langkah konkret pencegahan dampak buruk fosfat sebagai zat aditif pada makanan adalah dengan melakukan edukasi publik dan pelabelan makanan.

Untuk meningkatkan kewaspadaan publik mengenai risiko kesehatan konsumsi fosfat secara berlebih dapat dilakukan dengan memberikan informasi yang berkaitan melalui media massa. Penyampaian bahaya konsumsi fosfat berlebih perlu disampaikan dengan bahasa yang dapat dipahami orang awam tanpa kehilangan keakuratan data secara ilmiah.

Pelabelan makanan yang berisi fosfat secara komprehensif lebih diminati dengan bentuk skema lampu lalu lintas. Banyaknya jumlah fosfat yang ditambahkan dapat diberikan tanda berupa merah untuk menandai makanan yang mengandung tinggi fosfat. Tanda kuning untuk menandai makanan yang mengandung fosfat dalam jumlah sedang dan hijau untuk menandai makanan yang mengandung rendah fosfat. Model seperti ini telah dilakukan di Finlandia dan United Kingdom untuk menandai makanan yang mengandung tinggi garam. Agar hal ini dapat tercapai, implementasi ini perlu mendapat dukungan dari industri makanan, organisasi perlindungan konsumen, organisasi dokter Indonesia, dan pemerintah

Sebagai masyarakat yang mengonsumsi produk makanan dan minuman olahan, Anda harus cerdas dan waspada ketika membelinya baik di pasar tradisional maupun di supermarket. Mulailah membaca label kandungan makanan yang ada di kemasan makanan atau minuman yang akan Anda beli. Anda juga perlu tahu berapa kadar bahan kimia yang dapat Anda konsumsi ketika makan makanan tersebut.

Contohnya batasan sodium klorida atau garam agar tidak hipertensi adalah sekitar 1.5-2 gram per hari. Kadang kala makanan yang Anda beli adalah produk rumahan yang tidak melampirkan jumlah kandungan bahan pengawet yang digunakan. Jika Anda menemui hal seperti ini, maka berhati-hatilah untuk tidak mengonsumsinya terlalu banyak. Selain itu jangan lupa membaca tanggal kadaluarsa produk yang Anda beli karena bahan pengawet yang lewat tanggal kadaluarsa akan berdampak buruk bagi tubuh.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.